Menuju Pemikiran hukum Progresif di Indonesia

Menuju Pemikiran Hukum Progresif diIndonesia

Oleh:Prof. Dr. H.R. Otje Salman Soemadiningrat, SH.

 

 

A Pendahuluan

Memasuki situasitransisi dan perubahan yang sangat cepat saat ini, hukum Indonesia memiliki banyak catatanuntuk dikaji. Satu yang hendak kita bicarakan pada bagian ini, yaitu pandanganseorang yang dapat disebut pakar yang selama ini senantiasa melihat hukummelalui cara pandang berbeda. Satjipto Rahardjo, barang kali bukan nama yangasing bagi kalangan praktisi dan akademisi hukum di Indonesia. Buah karyanya dalamberbagai tulisan telah memberikan nuansa baru bagi perkembangan hukum.

Ada beberapa alasanmengapa pemikiran beliau dikemukakan dalam tulisan ini. Pertama, alasan paling logis, bahwa salah satu penulis memilikikedekatan (hubungan intelektual) dengan beliau, sehingga cukup memudahkan untukmemetakan secara garis besar pemikiran beliau tentang hukum di Indonesia.Kedua, sejauh ini beberapa pemikirlain di bidang hukum sudah banyak diulas dalam beberapa buku, baik untuktingkat dasar (pengantar) sampai tingkat lanjut tentang hukum Indonesia, sebutsaja beberapa tulisan dan karya Mochtar Kusumahatmadja, Soerjono Soekanto danlain-lain. Ketiga, orisinalitaspemikiran Satjipto Rahardjo mewakili konteks berpikir kontemporer ataupostmodernis, sesuai dengan tujuan penyusunan buku ini, yaitu menyangkutperkembangan yang luar biasa pesat dalam ilmu dan hukum harus mengantisipasiperkembantgan tersebut. Keempat,substansi pemikiran yang diajukan mengarah kepada pembentukan teori hukum.

Hukumadalah sebuah tatanan (Hukum ada dalam sebuah tatanan yang paling tidak dapatdibagi kedalam tiga yaitu : tatanan transedental, tatanan sosial dan tatananpolitik.) yang utuh (holistik) selalu bergerak, baik secara evolutif maupunrevolusioner. Sifat pergerakan itu merupakan sesuatu yang tidak dapatdihilangkan atau ditiadakan, tetapi sebagai sesuatu yang eksis dan prinsipil.Keping pemikiran demikian itu akan dijumpai dalam banyak gagasan tentang hukumyang dicetuskan oleh Satjipto Rahardjo. Bagi Satjipto Rahardjo, hukum bukanlahsekedar logika semata, lebih daripada itu hukum merupakan ilmu sebenarnya(genuine science),(Satjipto Rahardjo melihat hukum sebagai objek ilmu daripadaprofesi, dengan selalu berusaha untuk memahami atau melihat kaitan dengan hal-haldibelakang hukum, keinginan untuk melihat logika social dari hukum lebih besardaripada logika hukum atau perundang-undangan), yang harus selalu dimaknaisehingga selalu up to date. Pemikiran konvensional yang selama inimenguasai/mendominasi karakteriktik berpikir ilmuwan hukum, bagi Satjiptomerupakan tragedi pemikiran.

SatjiptoRahardjo merupakan salah satu pemikir hukum Indonesia yang cukup produktif.Prof. Tjip, begitu orang-orang menyebutnya, lebih terkenal (khususnya) di duniaakademis sebagai ‘Begawan Hukum’. Pemikirannya akan banyak dijumpai dalamberbagai bentuk, baik lisan maupun tulisan, buku teks atau tercerai berai diberbagai suratkabar dalam bentuk artikel dan makalah seminar/diskusi. Substansinya sangatberagam bahkan sangat luas, mulai dari hal yang bersifat filosofis, sosiologisbahkan anthropologis dan religius. Ciri pemikirannya sesuai dengan perkembangansaat ini dapat dimasukan ke dalam pemikir kontemporer dalam ilmu hukum postmodernissekaligus kritis.

Salahsatu dari sekian banyak idenya tentang hukum adalah apa yang disebutnya sebagai‘Pemikiran Hukum Progresif’, yaitu semacam refleksi dari perjalananintelektualnya selama menjadi musafir ilmu. Tulisan yang ada dalam buku ini,hanya berupa sketsa kecil dan bisa jadi tidak dapat menggambarkan substansi,konsep dan pesan yang ada didalamnya. Karena fokusnya lebih kepadakutipan-kutipan dari pidato emeritusnya, juga beberapa diskusi di ruang kelasdan di ruang seminar, (khususnya dengan salah satu penulis buku ini), ketikamengikuti pendidikan Program Doktor Ilmu Hukum di Undip Semarang.

Meskipundemikian, sebagai sebuah tulisan berbentuk sketsa hal ini cukup representative,mengingat kedalam substansi yang dikemukakan dalam pidato emeritusnya dan jugamateri diskusi. Esensi utama pemikirannya, berangkat dari konsep bahwa hukumbukan sebagai sebuah produk yang selesai ketika diundangkan atau hukum tidakselesai ketika tertera menjadi kalimat yang rapih dan bagus, tetapi melaluiproses pemaknaan yang tidak pernah berhenti maka hukum akan menampilkan jatidirinya yaitu sebagai sebuah “ilmu”. Proses pemaknaan itu digambarkannyasebagai sebuah proses pendewasaan sekaligus pematangan, sebagaimana sejarahmelalui periodesasi ilmu memperlihatkan runtuh dan bagunannya sebuah teori,yang dalam terminologi Kuhn disebut sebagai “lompatan paradigmatika”.

 

B. Profesi dan Ilmu

Bagi SatjiptoRahardjo, lahirnya program Pascasarjana dalam pendidikan hukum di Indonesia, pada tahun 1980-an merupakan sebuahpembalikan paradigmatik (revolusioner) dalam dunia pendidikan hukum,sebagaimana dijelaskan, “Dikatakan sebagai revolusi, oleh karena sejak dibukarechtshogeschool di jaman kolonial Belanda pada tahun 1922, maka Indonesiahanya mengenal program profesi saja. Maka sungguh revolusionerlah sifat ataukualitas perubahan pada pertengahan tahun 1980-an itu, mulai saat itu Indonesia tidakhanya mengenal pendidikan profesi, melainkan juga keilmuan, khususnya dalambidang hukum…”

Apalagisetelah dibukanya Program Doktor Ilmu Hukum, khususnya di UNDIP, maka lebihjelaslah kedudukan hukum sebagai objek ilmu, dan mengokohkan eksistensi tentangprogram keilmuan. Sehingga mereka yang hendak kuliah di Program Doktor IlmuHukum UNDIP, tidak harus memiliki latar belakang formal SI Hukum. Konsekuensiyang muncul, bahwa para ilmuwan hukum akan diajak untuk menjelajah hukum secaraluas yang intinya tidak lain adalah searching for truth (pencarian kebenaran).Inilah sebuah inti pemikiran beliau, bahwa setiap akademisi hukum memilikikewajiban untuk upaya pencarian kebenaran. Pencarian kebenaran inilahsebenarnya disebutnya sebagai proses pemaknaan terhadap hukum, dan ini pulamerupakan kesadaran visioner, bahwa tugas ilmuwan adalah mencerahkanmasyarakat, sehingga dunia pendidikan memberikan kontribusi dan tidak melakukanpemborosan.

Selamaini, khususnya sebelum lahirnya S2-S3, pendidikan hukum lebih bersifat kepadaapa yang disebutnya dengan Lawyers Law, atau Law for the lawyers atau Law forthe professional, setiap orang dibawa dan diarahkan untuk menjadi seorangprofesional, dan sisi buruknya muncul pandangan bahwa itulah satu-satunyakebenaran, bahwa hukum hanyalah ada dalam wilayah yang disebut dengan “logikahukum”. Pandangan ini kemudian berkembang lebih jauh bahkan mendominasi danmenghegemoni, sehingga setiap orang apabila berbicara hukum seolah-olah hanyawilayah “logika hukum”itulah kebenaran, di luar wilayah itu bukanlah hukum.Namun dengan munculnya pendidikan S2 dan S3, maka wilayah kebenaran (hukum)menjadi jauh lebih luas daripada gambaran hukum yang sudah direduksi menjadisekedar Lawyers Law.

 

C. Ilmu Hukum yang Selalu Bergeser

Penjelasan lainyang berkaitan dengan persoala diatas, adalah sikap ilmuwan yang harussenantiasa menyikapi ilmu sebagai sesuatu yang terus berubah, bergerak danmengalir, demikian pula ilmu hukum. Garis perbatasan Ilmu Hukum selalu bergesersebagaimana dijelaskan,

“…Maka menjadi tidak mengherankan bahwa baris perbatasan ilmu pengetahuan selaluberubah, bergeser, lebih maju dan lebih maju ….”

Denganmencontohkan pergeseran paradikmatik dalam ilmu fisika khususnya pemikitan Newton yang terkenal danpada waktu itu menghegomoni para fisikawan kemudian digantikan oleh era barudengan munculnya teori kuantum modern yang pada kenyataannya lebih mampumenjawab persoalan-persoalan fisika yang tidak terpecahkan sebelumnya. Harusdiakui bahwa Fisika Newton telah memberikan jasa luar biasa besar terhadappersoalan-persoalan fisika yang bersifat makro, logis, terukur dan melihathubungan sebab akibat (mekanis), namun tidak mampu menjawab persoalan mikro,yang bersifat relative, kabur, tidak pasti, namun lebih menyeluruh. Lahirnyateori kuantum modern yang memecahkan kebuntuan dari teori fisika Newton tersebut,selanjutnya merubah cara pandang ilmuwan tentang realitas alam semesta.Perubahan itu tentu saja dimaknai secara bervariasi oleh setiap orang yangmencermatinya, namun hakekat utamanya jelas bahwa lahirnya teori kuantum adalahpenjelasan paling logis bahwa ilmu senantiasa berada di tepi garis yang labil.

SatjiptoRaharjo mencoba menyoroti kondisi di atas ke dalam situasi ilmu-ilmu sosial,termasuk Ilmu Hukum, meski tidak sedramatis dalam ilmu fisika, tetapi padadasarnya terjadi perubahan yang fenomenal mengenai hukum yang dirumuskannyadengan kalimat “dari yang sederhana menjadi rumit” dan “dari yangterkotak-kotak menjadi satu kesatuan”. Inilah yang disebutnya sebagai“pandangan holistik dalam ilmu (hukum). Pandangan holistik ini memberikankesadaran visioner bahwa sesuatu dalam tatanan tertentu memiliki bagian yangsaling berkaitan baik dengan bagian lainnya atau dengan keseluruhannya.Misalnya saja untuk memahami manusia secara utuh tidak cukup hanya memahami,mata, telinga, tangan, kaki atau otak saja, tetapi harus dipahami secaramenyeluruh. Diilhami oleh gagasan Edward O. Wilson melalui tulisannya yaituConsilience; The Unity of Knowledge, membawa kita kepada pandangan pencerahantentang kesatuan pengetahuan, sebagaimana dijelaskan Ian G. Barbour, “Wilson berpendapat bahwakemajuan sains merupakan awal untuk melakukan penyatuan (unifikasi) antarasains alam, sains sosial dan sains kemanusiaan. Pencarian hubungan antardisiplin merupakan tugas yang sangat penting, dan Wilson menghinpun beberapa disiplin secaraluas dan anggun”.

Menurutnyatumbangnya era Newtonmengisyaratkan suatu perubahan penting dalam metodologi ilmu dan sebaiknyahukum juga memperhatikannya dengan cermat. Karena adanya kesamaan antara metodeNewton yang linier, matematis dan deterministic dengan metode hukum yanganalytical-positivism atau rechtdogmatiek yaitu bahwa alam (dalam terminologyNewton) atau Hukum dalam terminologi positivistic (Kelsen dan Austin) dilihatsebagai suatu sistem yang tersusun logis, teratur dan tanpa cacat. Denganmunculnya teori kuantum, bahkan teori keos, imbasnya terasa sekali kepadaperkembangan pemikiran hukum. Maka situasi atau yang selama ini teramalkandalam konsep yang dijelaskan diatas (Kelsen dan Austin) menjadi tatanan yang tidak dapatdiprediksi, acak, simpang siur, dan dramatis.

Gagasanfisika kuantum tersebut di atas dengan relativitasnya, membantu kita untuktidak memutlakan gagasan dan nilai yang kita pegang, tidak ada di dunia iniyang mutlak, yang paling benar dan paling baik sendiri, yang mutlak hanya Allah.Pemutlakan terhadap kebenaran yang relatif di atas itu pada dasarnya akanmerusak kreativitas. Bagi Satjipto Rahardjo, teori bukanlah harga mati, karenasejarah perkembangan ilmu pengetahuan telah membuktikan itu semua sejak jamanYunani hingga masa di era Postmodernini. Oleh karenanya ilmu hukum selaluberada pada suatu pijakan yang sangat labil dan atau selalu berubah (thechanging frontier of science) dan ini pula yang disebutnya dengan “the state ofthe arts in science”. Oleh karena itu kalimat yang senantiasa muncul adalah‘hukum selalu mengalami referendum’.

BagiSatjipto Raharjo, berpikir teoretis bagi para ilmuwan hukum adalah mutlak dantidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu gagasan beliau lebih kepadabagaimana para ilmuwan hendaknya mengembangkan semangat untuk tetap menjagacara berpikir yang demikian itu, karena melalui jalur tersebut akan membawakita semua sampai kepada apa yang disebutnya dengan “The Formation of Theory”(membangun teori). Teori menurutnya adalah, Giving name-explanation, given newmeaning. Para lmuwan hukum seharusnya mencoba berpikir kearah sana. Dan semua ilmuwan sangatterbuka/diundang untuk memasuki wilayah ini.

Teoripada dasarnya sangat ditentukan oleh bagaimana orang atau sebuah komunitasmemandang apa yang disebut hukum itu, artinya apa yang sedang terjadi atauperubahan yang tengah terjadi dimana komunitas itu hidup sangat berpengaruhterhadap cara pandangnya tentang hukum. Misalnya saja lahirnya pemikiranpositivistic dalam Ilmu Hukum sangat dipengaruhi oleh perkembangan filsafatpositivistic yang saat itu tengah booming.

 Sebuahteori selanjutnya akan mengalami proses pengkritisan, yaitu terus menerusberada pada wilayah yang labil, selalu berada pada suatu wilayah yang keos.Artinya disini teori bukan sesuatu yang telah jadi, tetapi sebaliknya akansemakin kuat mendapat tantangan dari berbagai perubahan yang terus berlangsung,dan kemudian selanjutnya akan lahir teori-teori baru sebagai wujud dariperubahan yang terus berlangsung tersebut. Teori baru ini menurut SatjiptoRahardjo pada dasarnya, akan memberikan tambahan ilmu, transformasi; bergerak,dan proses pemaknaan baru, dengan demikian struktur ilmu berubah secara total.Gambaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

 

 

D. Kritik Terhadap Hukum Modern

Satu hal yangcukup penting dari gagasan Satjipto Rahardjo, adalah kritiknya terhadapdominasi hokum modern, yang telah mengerangkeng kecerdasan (berfikir)kebanyakan ilmuwan hukum di indonesia.Sejak munculnya hukum modern, seluruh tatanan social yang ada mengalamiperubahan luar biasa. Kemunculan hukum modern tidak terlepas dari munculnyanegara modern. Negara bertujuan untuk menata kehidupan masyarakat, dan padasaat yang sama kekuasaan negara menjadi sangat hegemonial, sehingga seluruhyang ada dalam lingkup kekuasaan negara harus diberi label negara,undang-undang negara, peradilan negara, polisi negara, hakim negara danseterusnya. Bagi hukum ini merupakan sebuah puncak perkembangan yang ujungnyaberakhir pada dogmatisme hukum, liberalisme, kapitalisme, formalisme dankodifikasi.

            Namun demikian Satjipto Rahardjomenjelaskan, bahwa memasuki akhir abad 20 dan awal abad 21, nampak sebuahperubahan yang cukup penting, yaitu dimulainya perlawanan terhadap dominasiatau kekuasaan negara tersebut. Dalam ilmu, pandangan ini muncul dan diusungoleh para pemikir post-modernis, sehingga dengan demikian sifat hegemonal dariNegara perlahan-lahan dibatasi, dan mulai muncul pluralisme dalam masyarakat,Negara tidak lagi absolute kekuasaannya. Muncullah apa yang disebut dengankearifan-kearifan lokal, bahwa Negara ternyata bukan satu-satunya kebenaran.Inilah yang digambarkan oleh Satjipto Rahardjo sebagai gambaran transformasihukum yang mengalami “bifurcation” (pencabangan) dari corak hukum yang bersifatformalism, rasional dan bertumpu pada prosedur, namun di samping itu munculpula apa pemikiran yang lebih mengedepankan substansial justice, sebagaimanadijelaskan,

“Disinilahhukum modern berada di persimpangan sebab antara keadilan sudah  diputuskan dan hukum sudah diterapkan terdapatperbedaan yang sangat besar. Wilayah keadilan tidak persis sama dengan wilayahhukum positif. Keadaan yang gawat tersebut tampil dengan menyolok pada waktukita berbicara tentang “supremasi hukum”. Apakah yang kita maksud? Supremasikeadilan atau supremasi undang-undang? Keadaan persimpangan tersebut jugamemunculkan pengertian-pengertian seperti “formal justice” atau “legal justice”di satu pihak dan “substansial justce” di pihak lain.

 Inilahsebuah sketsa singkat pemikiran seorang yang selalu berada di jalan ilmu, upayadan semangat yang dikembangkan dengan terus berusaha mencermati perubahan yangterjadi, khususnya di Indonesia, gagasan Satjipto Rahardjo tidak sajamemperkaya khasanah pengetahuan hukum tetapi lebih dari itu memberikan sebuahketeladanan bahwa kewajiban bagi seorang ilmuwan adalah selalu bersikap rendahhati dan terbuka, serta memiliki semangat untuk senantiasa berada pada jalurpencarian, pembebasan dan pencerahan. Itulah pesan yang merupakan hakekat dariapa yang disebutnya “pemikiran hukum yang progresif”.

 

About akbar

Kehidupan berlalu dengan mudah seakan-akan perjalanan dalam hidup ini terasa begitu menyenangkan. itulah sandiwara, susah dan senang, bahagia dan menderita, suka dan duka berlalu dengan perasaan yang peka terhadap rasa. tetap tersenyum demi kebahagian orang lain walaupun itu tidak jauh lebih indah dari tersenyum buat kebahagian sendiri. kegagalanku merupakan kesuksesan yang tertunda.. sampai jumpa 5 tahun lagi..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: